BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menikmati kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk akan memberikan ribuan impian dengan letak yang strategis pada jalur lintasan dari Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara), yang dapat ditempuh ± 3 1/2 jam perjalanan menuju kota wisata Parapat dan Danau Toba serta sekaligus merupakan perantara antara kota-kota di wilayah pantai timur dengan berbagai kota di wilayah dataran tinggi dan pantai barat Sumatera Utara.
Kota Pematangsiantar dengan letaknya yang strategis menambah dinamika kehidupan di kota yang berpenduduk hampir seperempat juta jiwa ini. Keaneka ragaman agama dan sosial budaya mutlak dipertimbangkan dalam merumuskan program pembangunan dalam memelihara ketertiban, kemanan, kerukunan antar umat beragama dan kerja sama antar etnis.
Transportasi
Bagi para penggemar otomotif antik, sepeda motor yang digunakan sebagai alat penggerak transportasi angkutan roda tiga (becak) di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, bisa jadi “menggelitik” keinginan untuk mengoleksi. Sepeda motor BSA buatan Inggris, yang-menurut penduduk setempat dijadikan alat berperang oleh tentara Inggris di Jawa pada Perang Dunia II,
menjadi collector items yang menarik.
Selain langka, rata-rata usia motor 60 tahun. Motor yang saat ini berjumlah sekitar 200 unit itu ada yang dibuat tahun buatan tahun 1956. Becak di Kota Pematangsiantar yang luas wilayahnya 79,97 kilometer persegi ini memang berbeda dengan becak di kota-kota lain. Berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dengan permukaan tanah yang berbukit-bukit, menyebabkan jalan-jalan di kota ini menurun dan mendaki. Dengan kondisi seperti ini becak dayung sulit digunakan. Akhirnya kendaraan roda tiga itu dimodifikasi dengan “menempelkan” sepeda motor BSA di sisi kanan becak sebagai tenaga penggerak. Becak bermotor yang dijadikan alat transportasi sejak tahun 1960-an ini kemudian menjadi ciri khas dan daya tarik bagi wisatawan, meskipun saat ini berangsur-angsur tersingkir oleh mobil penumpang (mopen) yangberoperasi hingga larut malam.
Pematang Siantar yang tahun 1970-an mendapat julukan sebagai kota pelajar di Provinsi Sumatera Utara, jumlah sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi semakin meningkat diharapkan mampu memenuhi SDM daerah lebih progressif dan maksimal dengan tersedianya sumber daya dan potensi yang tersedia yang dapat memajukan Pematang Siantar dan Kabupaten simalungun menjadi lebih baik.
Masalah kelistrikan dan Infrastruktur merupakan masalah yang sangat penting, seringnya pemadaman listrik menjadi faktor penghambat perkembangan perekonomian di daerah ini. Infrastruktur jalan-jalan menuju kedaerah maupun sarana umum lainya dirasakan masih sangat tertinggal. Kinerja aparat Pemerintahan yang buruk menjadi faktor utama kemunduran di daerah ini, KKN menjadi virus yang sangat bahaya yang menjakiti para birokrat yang ada diPemerintahan. Perombakan, penggantian system serta aparat nya dapat membantu kebuntuan perkembangannya. Di harapkan generasi muda dapat berkiprah berperan serta lebih dan lebih lagi demi kemajuan bersama.
Kota Pematangsiantar bukan hanya diingat karena keunikan becaknya. Di kota ini pada tanggal 22 Juli 1917 lahir wakil presiden ketiga di republik ini yang memiliki reputasi internasional, Adam Malik (almarhum). Dalam bidang pemerintahan, kota yang berumur 130 tahun pada tanggal 24 April 2001, pernah menerima Piala Adipura pada tahun 1993 atas kebersihan dan kelestarian lingkungan kotanya. Sementara itu, karena ketertiban pengaturan lalu lintasnya, kota ini pun meraih penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha pada tahun 1996. Kota Pematangsiantar yang terletak pada garis 3º01’09” -2º54’40” lintang utara dan 99º6’23” – 99º1’10” Bujur Timur, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dengan luas 79,97 km2 dan terletak 400 meter di atas permukaan laut.
Pada waktu siang atau malam hari kehidupan di kota ini sepertinya tak pernah surut dilihat dari aktivitas masyarakatnya. Dengan udaranya yang sejuk dan airnya yang bening dimana-mana, kehidupan di kota ini aman dan kondusif menghidupkan perekonomian masyarakatnya.
Dengan keadaan tersebut, kota Pematangsiantar mempunyai nilai positif tersendiri untuk berinvestasi karena disamping aman, tertib dan tentram, jumlah penduduk yang relatif banyak dan bahan baku yang mencukupi khususnya yang berasal dari daerah interland. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, Pematang Siantar berpenduduk 240.831 jiwa yang menjadikannya kota kedua terbesar setelah Medan, ibu kota Sumatera Utara. Penduduknya termasuk heterogen dengan 49,6 persen dari etnis Toba, 14,2 persen dari etnis Jawa dan 11,43 persen dari etnis Simalungun. Etnis lain kurang dari 10 persen masing-masing dari Melayu, Mandailing, Cina, Minang, Karo, dan lain-lain. Dari jumlah penduduk tersebut, terdapat angkatan kerja sekitar 85.000 jiwa dengan 86 persen yang bekerja.
Perekonomian Pematangsiantar
Sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian kota yang terletak di tengahtengah Kabupaten Simalungun ini adalah industri besar dan sedang. Dari total kegiatan ekonomi di tahun 1999 yang mencapai Rp 1,5 trilyun, pangsa sektor industri mencapai 38 persen atau Rp 593 milyar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyusul di urutan kedua, dengan sumbangan 22 persen atau Rp 335 milyar. Dari ketiga kegiatan di sektor ini, subsektor perdagangan memberikan pemasukan sampai Rp 300 milyar.
Hasil industri andalan Kota Pematang Siantar adalah rokok putih filter dan nonfilter serta tepung tapioka. Pada tahun 2000, dengan tenaga kerja sebanyak 2.700 orang, NV Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), produsen rokok yang berdiri sejak 1952, menghasilkan 11,06 milyar batang rokok putih filter dan 75 juta batang rokok putih nonfilter. Dari seluruh hasil produksi rokok filter tersebut, 88,14 persen dijual ke luar negeri terutama ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur, dengan nilai ekspor mencapai Rp 345 juta. Sisanya sebesar 11,86 persen rokok putih filter dan seluruh hasil produksi rokok putih nonfilter dijual di da-lam negeri dengan nilai penjualan mencapai Rp 83 milyar. Sementara itu, Taiwan menjadi negara tujuan penjualan tepung tapioka yang diproduksi kota ini. Tahun lalu, volume ekspor tepung tapioka mencapai 3,8 ton dan tepung Modified Starch mencapai 2,7 ton. Keseluruhan nilai penjualan ekspor kedua jenis komoditas ini mencapai Rp 12,9 milyar.
Kota Pematangsiantar yang hanya berjarak 52 km dari Prapat sering menjadi kota perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Danau Toba. Sebagai kota penunjang pariwisata di daerah sekitarnya, kota ini memiliki hotel berbintang, hotel melati, restoran, pusat perbelanjaan dan rekreasi sebagai sarana pendukung meningkatnya wisatwan di daerah ini.
BAB II
ISI
SENI DAN KEBUDAYAAN PEMATANGSIANTAR
Kota pematangsiantar dihuni oleh masyarakat dari beragam suku dan kebudayaan. Namun kebudayaan yang paling kental yaitu budaya suku batak.
BUDAYA SUKU BATAK
A. Sejarah Batak
Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba sila-silahi (silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi (Pardosi). Masa kejayaan kerajaan Batak dipimpin oleh Raja yang bernama Sultan Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya.
B. Arti Kebudayaan Batak
Yang dimaksud dengan kebudayaan Batak yaitu seluruh nila-nilai kehidupan suku bangsa Batak di waktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya. Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu ciriyang khas bagi suku bangsa batak yakni : keyakinan dan keprcayaan bahwa ada Maha pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta besertasegala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi.
Untuk mewujudkan kesimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi spiritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnyasku bangsa Batak telah dinaungi Patik. Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran. Patik ditandai dengan kata Unang, Tongka, Sotung, Dang Jadi. Sebagai akibat dari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum atau Hukum. Uhum atau Hukum ditandai oleh kata ; Aut, Duru, Sala, Baliksa, Hinorhon, Laos, Dando, Tolon, Bura dsb.
Didalam menjalankan kehidupan suku bangsa Batak terutama interaksi antara semua manusia dibuatlah nilai-nilai antara sesama, etika maupun estetika yang dinamai Adat. Suku bangsa Batak mempunyai system kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni Partuturon. Peringatan untuk tidak melanggar Patik itu ditegaskan dengan kata Sotung. Dan mengharamkan segala aturan untuk dilanggar dikatakan dengan kata Subang.
C. Makna Kebudayaan Batak
Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan pengolahan tingkat daya dan perkembangan daya dalam satu sistem komunikasi meliputi :
Sikap Mental (Hadirion)
Sikap mental ini tercermin dari pepatah : babiat di harbangan, gompul di alaman.
Anak sipajoloon nara tu jolo.
Nilai Kehidupan (Ruhut-ruhut Ni Parngoluon)
Pantun marpangkuling bangko ni anak na bisuk.
Donda marpangalaho bangkoni boru na uli. (Pantun hangoluan tois hamagoan).
D. Unsur Budaya
Bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, yaitu :
Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo
Logat Pakpak yang dipakai oleh orang Pakpak
Logat Simalungun yang dipakai oleh orang Simalungun
Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.
2. Pengetahuan
Orang Batak juga mengenal sistem gotong-royongn kuno dalam hal bercocok tanam. Dalam bahasa Karo aktivitas itu disebut Raron, sedangkan dalam bahasa Toba hal itu disebut Marsiurupan. Sekelompok orang tetangga atau kerabat dekat bersama-sama mengerjakan tanah dan masing-masing anggota secara bergiliran. Raron itu merupakan satu pranata yang keanggotaannya sangat sukarela dan lamanya berdiri tergantung kepada persetujuan pesertanya.
3. Organisasi Sosial
· Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen.
Untuk mahar perkawinan-saudara mempelai wanita yang sudah menikah.
· Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga. Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan peendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawanan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sudah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya.
Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu :
a. Perbedaan tigkat umur
Perbedaan pangkat dan jabatan
Perbadaan sifat keaslian
Status kawin
4. Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat Batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap keluarga mendapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan.
Peternakan juga salah satu mata pencaharian suku Batak antara lain peternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba. Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, tembikar, yang ada kaitannya dengan pariwisata.
5. Religi
Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebarannya meliputi Batak selatan. Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebarannya meliputi Batak utara. Walaupun demikian banyak sekali masyarakat Batak di daerah pedesaan yang masih mempertahankan konsep asli religi penduduk Batak.
Orang Batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukannya. Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan Maha Pencipta; Siloan Na Balom : berkedudukan sebagai penguasa dunia makhluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang Batak mengenal tiga konsep yaitu, Tondi : jiwa atau roh; Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang; Begu : Tondinya orang yang sudah mati. Orang Batak juga percaya akan kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.
6. Kesenian
Seni Tari yaitu Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat musik tradisional : Gong, Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku Batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang.
Pakaian merupakan kriteria yang mempengaruhi penialaian. Kepandaian menari harus dipadankan dengan pemahaman pakaian tradisional, demikian kesimpulan yang ditetapkan para utusan setiap kecamatan dengan dewan juri. Pada festival tortor tahun ini pemenangnya adalah kontingen Kecamatan Sigumpar.
Hoba-hoba ulos yang dililitkan di pinggang sampai kaki tidak lajim menggunakan punsa (namarulu). Perempuan toba biasanya pakai selembar lagi ulos dililitkan di dada yang disebut hohop. Tali-tali harus dari ulos dan dililitkan di kepala. Ada satu sebutan kepandaian bagi putra batak yang disebut; “namalo martali-tali”. Lilitan ulos hoba-hoba harus menutup ke kiri. Hindarkan penggunaan ulos bukan Toba, misalnya sadum angkola.
BENDA-BENDA BUDAYA PUSAKA SUKU BATAK
Benda-benda budaya pusaka merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke suatu daerah. Namun disayangkan benda budaya pusaka Batak banyak yang diperjualbelikan dengan harga yang relatif tinggi hingga mencapai jutaan rupiah. Sebagian besar warisan nenek moyang ini tidak terawat dan terkesan diabaikan.
Wisatawan pada umumnya dapat dianggap seperti antropolog dan sosiolog amatiran, mereka datang mengunjungi obyek wisata karena tertarik akan kombinasi faktor alam dan kebudayaan. Dalam hal ini wisatawan selain menikmati keindahan alam juga ingin menambah pengetahuannya dalam hal sosio kultural yang merupakan spesifikasi sesuatu daerah yang mungkin tidak dimiliki daerah yang lain seperti nilai-nilai budaya, adat istiadat, ritual agama, kesenian, artifak, arsitektur dan lain-lain yang bersifat local genius.
Dalam hal menarik minat wisatawan, Tanah Batak memiliki kekayaan benda budaya pusaka peninggalan sejarah nenek moyang. Beberapa jenis benda sejarah yang cukup dikenal pada zaman berburu dan meramu (zaman Pleistocen 1.500.000-19.000 -- zaman Holecein 10.000-3.000 SM) adalah Sior, alat yang dipakai suku Batak Toba dalam memanah binatang. Sumpitan digunakan pada zaman berburu untuk menembak binatang.
Curu-curu sebagai tempat kemenyan suku Batak Pakpak, Dairi dalam mengumpulkan bahan makanan dengan cara meramu dalam mempertahankan hidup. Selain itu Tali Tolang sebagai tali untuk memanjat pohon enau.
Dalam memburu binatang besar biasanya masyarakat menggunakan lembing, perangkap, jerat dan bedil. Sementara untuk binatang kecil menggunakan panah, sumpitan, jaring dan pemulut (Pikat dan getah).
Kebiasaan meramu dan berburu hingga sekarang masih menjadi pekerjaan sambilan suku Batak Toba di pedesaan. Sehingga meski jarang ditemui, benda- benda sejarah ini masih ada yang disimpan oleh penduduk di pedesaan sampai sekarang.
Miliki Nilai Sejarah Yang Tinggi
Sebelum pengaruh asing masuk ke Sumatera Utara (Sumut) masyarakat masih menggunakan sistem barter dalam perdagangan. Saling tukar menukar antar hasil bumi dan barang-barang penduduk dengan suku pendatang. Alat pengukur setiap suku atau daerah hampir bersamaan yaitu takaran yang dibuat dari bambu atau kayu yang disebut Solup (Batak Toba) dan Tumba (Batak Karo) untuk mengukur padi, beras dan kacang.
Setelah bangsa asing masuk barulah dikenal timbangan dari logam yang bentuknya lebih sempurna. Meski timbangan dari logam sudah menguasai pasar, namun masyarakat di pedesaan masih suka menggunakan alat-alat pengukur tradisional ini. Misalnya, Tumba dan Solup untuk mengukur padi, beras dan kacang masih dipakai sampai sekarang.
Rupanya pada zaman prasejarah masyarakat Batak Toba sudah memiliki keahlian dalam membuat peralatan rumah tangga dari kayu, rotan dan bambu. Perabot rumah tangga ini terdiri dari kursi, meja dan lemari. Benda-benda kerajinan/anyaman terdiri dari bambu dan rotan. Dasar anyaman umumnya menggunakan pola silang antara fungsi vertikal dan horizontal. Ragam hiasaan umumnya diambil dari motip flora dan fauna. Salah satu karya kerajinan jenis ini masih ditemui pada Kampil (Tempat sirih) Batak Karo.
Benda-benda lain peninggalan nenek moyang Batak Toba adalah benda-benda menanak nasi, alat-alat dapur, peralatan masak dan dapur yang sudah jarang ditemui. Benda pusaka ini malah ada yang diperjualbelikan sampai jutaan rupiah karena bentuknya yang kecil dan unik. Biasanya yang menampung benda pusaka ini adalah para kolektor yang tersebar di penjuru tanah air.
Menurut salah seorang kolektor yang suka membeli benda pusaka budaya Batak Toba, benda-benda sejarah Batak memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Selain unik, katanya, benda bersejarah ini sangat cocok dijadikan koleksi. “Itu sebabnya saya pernah membeli satu buah Hudon Tano (Periuk tanah) dan Harpe (Alas periuk) masing-masing senilai lima juta rupiah dari seorang warga di Samosir,” akunya pada Penulis namun enggan menyebut namanya.
Rumah Bolon
Selain itu warisan nenek moyang suku Batak Toba yang memiliki nilai sejarah yang tinggi adalah Rumah Bolon. Rumah adat ini berbentuk empat persegi panjang dan kadang-kadang dihuni oleh 5 sampai 6 keluarga batih. Untuk memasuki rumah harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah Batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang, hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah.
Lantai rumah kadang-kadang sampai 1,75 meter di atas tanah, dan bagian bawah dipergunakan untuk kandang babi, ayam, dan sebagainya. Dahulu, pintu masuk mempunyai 2 macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal, tapi sekarang daun pintu yang horizontal tak dipakai lagi.
Pada bagian depan rumah adat terdapat hiasan-hiasan dengan motif garis geografis dan spiral serta hiasan berupa susu wanita yang disebut adep-adep. Hiasan ini melambangkan sumber kesuburan kehidupan dan lambang kesatuan. Rumah yang paling banyak hiasan-hiasannya disebut Gorga. Hiasan lainnya bermotif pakis disebut nipahu, dan rotan berduri disebut mardusi yang terletak di dinding atas pintu masuk.
Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan Gajah dompak, bermotif muka binatang, mempunyai maksud sebagai penolak bala. Begitu pula hiasan bermotif binatang cicak, kepala singa yang dimaksudkan untuk menolak bahaya seperti guna-guna dari luar. Hiasan ini ada yang berupa ukiran kemudian diberi warna, ada pula yang berupa gambaran saja. Warna yang digunakan selalu hitam, putih dan merah.
Pengamatan Penulis disejumlah daerah di Tanah Batak tentang keberadaan warisan rumah adat nenek moyang suku Batak Toba menunjukkan bahwa sudah banyak yang tidak terawat dan terkesan diabaikan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat. Sehingga keberadaan rumah Bolon sudah terancam punah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Sebagai generasi muda bangsa, kita harus bangga terhadap daerah asal kita, dengan begitu kita bisa bangga pula terhadap tanah air kita. Seiring bejalannya waktu, pasti banyak hal yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu wilayah terutama di bidang seni dan budaya. Terlihat dari banyaknya Negara lain yang mulai mengikuti seni budaya kita, bahkan mengakui seni budaya kita sebagai seni budaya asli Negara mereka.
Maka dari itu,Sebagai generasi muda yang nantinya akan meneruskan dan mewarisi seni budaya Negara, kita harus mengetahui dan mampu memahami apa saja yang menjasi seni dan budaya kita yang nantinya harus kita lestarikan dan turunkan ke generasi kita berikutnya.
Sebagai Suku batak, kita harus member perhatian terhadap Rumah Bolon yang hamper punah. Mungkin sepuluh tahun ke depan, kita tidak akan melihat lagi rumah Bolon yang berdiri secara utuh di kampung Batak bila Pemerintah daerah (Pemda) tidak segera berperan untuk mengkonservasi warisan nenek moyang. Padahal rumah Bolon memiliki nilai sejarah yang tinggi untuk menjadi daya tarik wisatawan.
Salah satu upaya untuk mengkonservasi rumah Bolon adalah dengan merawat dan menjaga keadaan rumah Bolon tetap baik dengan melibatkan masyarakat setempat agar tujuan konservasi berhasil.