Pesawat Garuda Indonesia
Adanya migrasi sistem lama ke sistem baru yang dilakukan perusahaan dianggap pengamat informasi teknologi (IT) sebagai hal yang wajar. Namun apa yang terjadi pada perusahaan penerbangan Garuda Indonesia menunjukkan persiapan dan perencanaan migrasi yang kurang matang.
Integrated operation control system (IOCS) pada teknologi penerbangan Garuda diakui perusahaan penerbangan itu memang sudah lama tidak pernah dikembangkan. Oleh karena itulah perusahaan harus melakukan migrasi sistem. Sayangnya kerusakan sistem TI ini justru menyebabkan kerugian penumpang yang hendak bepergian dan terlanjur membeli tiket. Rute penerbangan banyak yang tertunda, bahkan delay.
"Di dunia ICT, terjadinya down curve (penurunan kinerja) saat melakukan transisi dari sistem lama ke yang baru memang hal yang normal. Jika perusahaan biasa atau menengah mungkin masih dianggap wajar. Tapi untuk perusahaan besar sekelas Garuda Indonesia, yang merupakan perusahaan pelayanan publik, masalah ini justru menunjukkan ketidaksiapan perusahaan, bahkan cenderung mengesankan tim pelaksana kurang profesional untuk membuat perencanaan dan sekaligus mengantisipasi masalah," ujar pengamat IT, Abimanyu Wachjoewidajat, kepada okezone, Selasa (23/11/2010).
Abimanyu melihat jika Garuda melakukan proses migrasi sistem pada siang hari. Padahal siang hari merupakan waktu sibuk (peak), dimana publik sedang menggunakan layanan tersebut.
"Garuda harusnya sejak awal sudah menyadari bahwa dampak tersebut sangat besar. Seolah-olah Garuda menganggap, bila terjadi kegagalan cukup dengan 'permintaan maaf'," ujar Abimanyu.
Seharusnya, lanjut Abimanyu, persiapan proses migrasi dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya dan perencanaan harus dibuat dengan mayang sehingga saat migrasi, dampaknya dapat diminimalisir, khususnya terhadap kenyamanan pelanggan.
Dipaparkan Abimanyu, setidaknya ada beberapa hal yang harus dimatangkan dalam melakukan proses migrasi sistem. Pertama adalah Change Management, yaitu pengelolaan tahap perubahan yang terdiri dari berbagai rencana (plan A, B, C, dan lainnya), penetapan point of no return, fallback plan, failure handling, dan lainnya. Selanjutnya adalah Proses Transisi. Dalam hal ini Garuda ingin menggabungkan tiga sistem terpisah, sepertu pergerakan pesawat, jadwal penerbangan dan pergerakan kabin menjadi satu kesatuan. Ini merupakan hal yang cukup beresiko oleh karena itu ada baiknya proses transisi dilakukan secara bertahap. Penggabungan pertama sebaiknya dipilih tergantung pada faktor resiko, kepentingan, sistem barrier, kebutuhan, tujuan, kompleksitas, proses dependancy, dan lainnya.
"Setelah itu baru dilakukan Paralel Run, dimana sistem lama masih tetap berjalan seiring dengan sistem baru yang siap digunakan. Hal ini sebagai langkah antisipasi dan backup jika ternyata ada kendala saat proses transisi (post migration failure). Bila sistem baru telah benar-benar lancar, baru sistem lama dimatikan," papar Abimanyu.
Menurut Abimanyu, pihak Garuda terlalu berani mengambil resiko dengan melakukan transisi di pada saat jam sibuk (siang hari). Harusnya mereka bisa menerapkan Periods Selection dimana proses transisi dilakukan pada waktu yang dianggap paling sepi (off peak). Pasalnya saat off peak, resiko bisa ditekan seminimal mungkin, contohnya pada malam hari.
Selain itu, dituturkan Abimanyu, pihak Garuda juga seharusnya melakukan tahap ujicoba penggunaan sistem baru dan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pihak ketiga, dalam hal ini pelanggan yang pasti akan terkena dampak peralihan ini, agar mereka bisa bersiap diri menghadapi kemungkinan yang terjadi.
"Seyogyanya Garuda Indonesia bisa belajar dari masalah yang dialami saat ini dan melakukan pembenahan dalam perencanaan migrasi yang lebih baik dan terkelola dengan benar. Mereka harus ingat bahwa Garuda Indonesia adalah flag carrier Indonesia. Artinya apa yang mereka lakukan mencitrakan bangsa ini," tandas Abimanyu
Integrated operation control system (IOCS) pada teknologi penerbangan Garuda diakui perusahaan penerbangan itu memang sudah lama tidak pernah dikembangkan. Oleh karena itulah perusahaan harus melakukan migrasi sistem. Sayangnya kerusakan sistem TI ini justru menyebabkan kerugian penumpang yang hendak bepergian dan terlanjur membeli tiket. Rute penerbangan banyak yang tertunda, bahkan delay.
"Di dunia ICT, terjadinya down curve (penurunan kinerja) saat melakukan transisi dari sistem lama ke yang baru memang hal yang normal. Jika perusahaan biasa atau menengah mungkin masih dianggap wajar. Tapi untuk perusahaan besar sekelas Garuda Indonesia, yang merupakan perusahaan pelayanan publik, masalah ini justru menunjukkan ketidaksiapan perusahaan, bahkan cenderung mengesankan tim pelaksana kurang profesional untuk membuat perencanaan dan sekaligus mengantisipasi masalah," ujar pengamat IT, Abimanyu Wachjoewidajat, kepada okezone, Selasa (23/11/2010).
Abimanyu melihat jika Garuda melakukan proses migrasi sistem pada siang hari. Padahal siang hari merupakan waktu sibuk (peak), dimana publik sedang menggunakan layanan tersebut.
"Garuda harusnya sejak awal sudah menyadari bahwa dampak tersebut sangat besar. Seolah-olah Garuda menganggap, bila terjadi kegagalan cukup dengan 'permintaan maaf'," ujar Abimanyu.
Seharusnya, lanjut Abimanyu, persiapan proses migrasi dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya dan perencanaan harus dibuat dengan mayang sehingga saat migrasi, dampaknya dapat diminimalisir, khususnya terhadap kenyamanan pelanggan.
Dipaparkan Abimanyu, setidaknya ada beberapa hal yang harus dimatangkan dalam melakukan proses migrasi sistem. Pertama adalah Change Management, yaitu pengelolaan tahap perubahan yang terdiri dari berbagai rencana (plan A, B, C, dan lainnya), penetapan point of no return, fallback plan, failure handling, dan lainnya. Selanjutnya adalah Proses Transisi. Dalam hal ini Garuda ingin menggabungkan tiga sistem terpisah, sepertu pergerakan pesawat, jadwal penerbangan dan pergerakan kabin menjadi satu kesatuan. Ini merupakan hal yang cukup beresiko oleh karena itu ada baiknya proses transisi dilakukan secara bertahap. Penggabungan pertama sebaiknya dipilih tergantung pada faktor resiko, kepentingan, sistem barrier, kebutuhan, tujuan, kompleksitas, proses dependancy, dan lainnya.
"Setelah itu baru dilakukan Paralel Run, dimana sistem lama masih tetap berjalan seiring dengan sistem baru yang siap digunakan. Hal ini sebagai langkah antisipasi dan backup jika ternyata ada kendala saat proses transisi (post migration failure). Bila sistem baru telah benar-benar lancar, baru sistem lama dimatikan," papar Abimanyu.
Menurut Abimanyu, pihak Garuda terlalu berani mengambil resiko dengan melakukan transisi di pada saat jam sibuk (siang hari). Harusnya mereka bisa menerapkan Periods Selection dimana proses transisi dilakukan pada waktu yang dianggap paling sepi (off peak). Pasalnya saat off peak, resiko bisa ditekan seminimal mungkin, contohnya pada malam hari.
Selain itu, dituturkan Abimanyu, pihak Garuda juga seharusnya melakukan tahap ujicoba penggunaan sistem baru dan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk pihak ketiga, dalam hal ini pelanggan yang pasti akan terkena dampak peralihan ini, agar mereka bisa bersiap diri menghadapi kemungkinan yang terjadi.
"Seyogyanya Garuda Indonesia bisa belajar dari masalah yang dialami saat ini dan melakukan pembenahan dalam perencanaan migrasi yang lebih baik dan terkelola dengan benar. Mereka harus ingat bahwa Garuda Indonesia adalah flag carrier Indonesia. Artinya apa yang mereka lakukan mencitrakan bangsa ini," tandas Abimanyu